Kamis, 29 Desember 2011

Teori Clifford Geertz

Ulasan Singkat Tetang Teori Clifford Geertz Dalam Bukunya Yang Berjudul

Religion of Java

Oleh : dedy ariyanto

Clifford Geertz lahir di (1926/08/23)San Francisco pada 23 Agustus 1926 dan pada 31 Oktober 2006 Clifford Geertz meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Dari usia yang panjang itu 10 tahun lebih dihabiskannya dalam penelitian lapangan (di Jawa, Bali, Maroko) dan 30 tahun digunakannya untuk menulis tentang hasil-hasil penelitiannya, dengan tujuan menyampaikan pesona studi kebudayaan kepada orang-orang lain.

Geertz belajar antropologi di Universitas Harvard, pada Department of Social Relations, yang didirikan oleh Clyde Kluckhon, bersama beberapa tokoh lainnya, menulis hasil penilitiannya di bawah bimbingan Cora DuBois, berdasarkan penelitiannya di Jawa pada tahun 1952, dan menyelesaikan S-3 pada 1956 dengan disertai terbitnya buku berjudul The Religion of Java.

Clifford Geertz bersama istrinya datang ke Yogyakarta tahun 1950an atas biaya Massachussets Institute of Technology (MIT) sebuah universitas teknologi ternama di Amerika. Tugasnya adalah mempelajari antropologi Jawa. Dalam waktu 1 tahun, Geertz mampu menguasai bahasa Jawa dalam tiga tingkatan (ngoko, ngoko alus, kromo inggil). Kecepatannya menyerap bahasa Jawa tidak lepas dari bantuan mahasiswa-mahasiswa Yogya yang setiap hari datang ke hotelnya memberikan kursus singkat, dan dibantu lingkungan Yogya yang mayoritas Jawa.

Selama ia tinggal dijawa dan ia mempelajari kebudayaan dan adat istiadat jawa kemudian pada tahun 1956 ia membuat sebuah buku yang berjudul Religion of Java yang mempunyai tebal 700 halam yang kemudian diperas menjadi 400 halaman dibawah supervisi Cora DuBois di mana, dalam buku tersebut ia memaparkan secara sistematik membagi kalangan Jawa menjadi 3 golongan yaitu abangan, santri dan priyayi. Konsep yang diperkenalkan oleh Geertz untuk melukiskan dan menganalisa tipe budaya utama menurut keparcayaan agama, etnis dan ideology politik mereka maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Golongan abangan, yang menekankan aspek-aspek animisme sinkretisme jawa secara keseluruhan dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsure petani desa. Golongan abangan menurut Geertz adalah masyarakat kaum tani di jawa. Agama abangan menggambarkan sintesa petani antara hal-hal yang berasal dari kota dan warisan kesukuan, yang berjiwa sederhana (Geertz 1960: 229).

2) Golongan santri, yang menekankan aspek-aspek islam sinkretisme itu dan pada umumnya diasosiasikan dengan unsur pedagang dan juga unsur - unsur tertentu pada kaum tani. Golongan santri menurut Geertz adalah Ia dimanifestaikan dalam pelaksanaan yang cermat dan teratur, ritual-ritual pokok agama islam, seperti kewajiban shalat lima kali sehari, shalat jumat di masjid, berpuasa selama bulan ramadhan, dan menunaikan haji ke mekah. Ia dimanifestasikan dalam satu kompleks organisasi-organsisasi sosial, amal, dan politik seperti Muhammadiyah, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama.

3) Golongan priyai, yang menekankan aspek-aspek hindu dan diasosiasikan dengan unsur birokrasi. (Geertz 1960: 6)

Menurut Geertz pembagian ini merupakan pembagian yang dibuat oleh orang-orang jawa sendiri. Namun demikian, meskipun memang benar dalam masyarakat mojokuto sebagian dari penduduk dianggap sebagai abangan, santri dan priyai, hanya saja ini tidak berarti bahwa ketiga golongan itu merupakan kategori - kategori dari satu tipe klasifikasi. Kemudian penulis membatasi klasifikasinya dengan menyatakan bahwa istilah-istilah abangan, santri, dan priyai menunjukkan dimensi-dimensi variasi kebudayaan, bukan kategori absolute (Geertz: 347).

Di mojokuto adat penduduknya adalah adat jawa, dengan beberapa variasi setempat. Perbedaan antara adat dan agama apabila tidak disadari oleh orang yang sedang memperdalam pengetahuannya tentang agama, mengakibatkan penafsiran-penfasiran yang keliru terhadap fenomena-fenomena empiris tertentu.

Sebagai klasifikasi kelompok, pembagian Geertz ini dipandang tidak memadai karena besarnya kemungkinan tumpang tindih. Dari segi ketaatan pada ajaran agama Islam, misalnya, seorang priayi dapat diklasifikasikan sebagai santri atau abangan.

Dalam dinamika sosial, di antara ketiga golongan tersebut sering ditemukan pola-pola konflik, yakni konflik idiologi, konflik kelas, dan konflik politik.

Konflik Ideologi

Ketegangan antara priayi dengan abangan dalam hal ideologi tidak terlihat secara jelas dibandinkan ketegangan antara kaum santri dengan kaum abangan dan kaum priayi. Terhadap ideologi kaum santri terlihat jelas dengan nyanyian ejekan kaum abangan yang mengisyaratkan bahwa kaum santri yang merasa memiliki moralitas lebih suci dari kaum abangan dengan cara berpakaian sopan, seperti kerudung namun dalam kenyataan menurut kaum abangan masih melakukan perbuatan zina. Kaum priayi mengkritik tentang kemunafikan santri dan intoleransi di kalangan kaum santri terhadap golongan-golongan lain dalam masyarakat.

Menurut kaum abangan, ritual keagamaan haji ke Makkah yang dilakukan oleh kaum santri merupakan sikap yang tidak penting dan hanya membuang-buang uang saja. Yang lebih penting, menurut kaum abangan dan priayi, kesucian itu ada di dalam hati, bukan di Mekah atau di masjid.

Serangan kaum santri terhadap kedua golongan tersebut (abangan dan priyayi) tidak kalah tajam. Mereka menuduh kaum abangan sebagai penyembah berhala dan menuduh kaum priayi tidak bisa membedakan dirinya dengan Tuhan, terkait dengan kecenderungan kaum priayi untuk merumuskan nilai dan normanya sendiri yang berasal dari hati nurani, dan bukan berasal dari kitab suci.

Konflik Kelas

Ketegangan priyayi dan abangan terlihat jelas pada hubungannnya dengan persoalan status. Kaum priyayi menuduh kaum abangan tidak tahu tempat yang layak sehingga mengganggu keseimbangan organisasi masyarakat. Mereka menganggap bahwa kedudukan status sosial mereka lebih tinggi dibangdingkan kaum abangan sehingga mereka tidak suka jika kaum abangan yang mayoritas petani meniru gaya hidup mereka. Namun sejak zaman pendudukan Jepang di Indonesia, kaum abangan mulai menyuarakan persamaan hak dan status sosial dengan kaum priayi. Hal ini karena tidak adanya orang kuat dari kaum priayi di pedesaan sebagai tokoh-tokoh kekuasaan, kekayaan, dan kesaktian magis dalam strutur masyarakat.

Konflik Politik

Dalam kehidupan politik, sering terdapat ketegangan-ketegangan hubungan di antara ketiga golongan ini, yang berawal dari berbedanya ideologi ketiga golongan. Pada masa orde baru di mana partai politik yang ada disederhanakan menjadi tiga partai, ada kecenderungan terjadinya himpitan parameter antara partai dan aliran ini. Partai Persatuan Pembangunan identik dengan kaum santri, Partai Demokrasi Indonesia identik dengan kaum abangan, dan Golkar identik dengan kaum priayi. Ketiga varian ini sering ditajamkan dengan warna-warna mereka yang memang berbeda, kaum santri dan PPP identik dengan warna hijau, Kaum Abangan dan PDI identik dengan warna merah, sedangkan KaumPriayi dan Golkar identik dengan warna kuning.

Daftar Pustaka

www.wikipedia.com

The Religion of Java

http://www.indiana.edu/~wanthro/theory_pages/Geertz.htm

http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Clifford_Geertz&oldid=461510823

www.pdf4free.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar